Oleh: Diding Wahyudin | November 23, 2007

Titik Kuat 8 Common Goals Jawa Barat

Semangat untuk membangun common goals dalam bingkai pembangunan,  rupanya tidak segampang kita membalikan telapak tangan. Begitu pun dengan yang terjadi di Jawa Barat.

Perjalanan panjang lahirnya common goals atau sering juga diistilahkan tujuan bersama, tentu akan mengalami beragam liku-liku dan tantangan.

Mulai dari persepsi, pandangan, harapan dan kecemasan dari seluruh pemangku masyarakat Jawa Barat.

Sebagaimana yang tertuang dalam Pergub No. 34 Tahun 2007 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, yang disebut dengan 8 common goals itu adalah :

  1. Peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, yang diarahkan untuk menciptakan sumber daya manusia Jawa Barat yang unggul dan terpercaya.
  2. Ketahanan pangan yang difokuskan pada komuditi beras.
  3. Peningkatan daya beli masyarakat yang dititik-beratkan pada penciptaan lapangan kerja serta menyiapkan tenaga terampil dan berjiwa entreupreneur untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri.
  4. Peningkatan kinerja aparatur, melalui insentif berbasis kinerja dan penataan organisasi.
  5. Penanganan pengelolaan bencana, yang dititik beratkan pada bencana alam, banjir dan longsor.
  6. Pengendalian dan pemulihan kualitas lingkungan, yang dititik-beratkan pada pelestarian dan peningkatan luas dan fungsi kawasan lindung di Jawa Barat.
  7. Pengelolaan, pengembangan dan pengendalian infrastruktur, yang ditik-beratkan pada jaringan irigasi, jaringan jalan, bandara internasional Kertajati serta Waduk Jati Gede.
  8. Kemandirian enerji dan kecukupan air baku, yang dititik-beratkan pada listrik dan enerji perdesaan serta ketersediaan air baku dan pemenuhan kebutuhan air untuk kawasan pantai.

Menyimak dengan seksama ke 8 common goals tersebut, tampak jelas bahwa dalam menghadapi masa depan, Jawa Barat dan masyarakatnya, tentu harus bekerja keras untuk menghalau masalah-masalah yang menghadangnya. Jawa Barat dengan jumlah penduduk di atas 40 juta jiwa, diduga merupakan akar masalah yang patut dicermati dengan serius.

Oleh sebab itu, yang namanya pengendalian penduduk, mestinya menjadi prioritas penanganan yang utama. Begitu pula dengan yang disebut dengan daya beli. Dibandingkan dengan indikator-indikator pendidikan dan kesehatan (kaitannya dengan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia=IPM), daya beli masyarakat Jawa barat, memang berada dalam angka yang paling rendah.

Beragam soal yang menyelimuti 8 common goals, menuntut kepada kita untuk segera mencari jalan keluarnya. Disini kita dimohon untuk mampu merajut sebuah kebijakan, strategi dan program yang dapat menukik langsung terhadap akar masalah yang sedang digeluti masyarakat. Rajutan ini segera mesti diwujudkan, agar pertanyaan masyarakat yang mempertanyakan mau kemana 8 common goals Jawa Barat, tidak menggumpal menjadi sebuah komoditas politik yang berkepanjangan.

Inilah salah satu pertimbangan mengapa common goals penting disemangati oleh spirit of idea, spirit of partnership, spirit of empowering, spirit of reform dan spirit of egeliter, untuk selanjutnya dapat dipahami dari sisi filsafati, sisi akademik, sisi kebijakan, strategi dan operasionalisasinya di lapangan.

Selain itu, common goals penting dianalisis dari pendekatan sistem perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan keberlanjutan pembangunan di Jawa Barat (Manajemen Pembangunan Jawa Barat). Kemudian dari pendekatan kelembagaan pembangunan dan pendekatan keterkaitan antar lembaga (Pemerintah dan stakeholders).

Akhirnya sebagai sebuah pilihan strategis dalam mengelola pembangunan, common goals sangat membutuhkan :

  1. Keseragaman persepsi dalam rangka menyamakan sinyal/frequensi/networking thinking dari semua pihak.
  2. Keserempakan gerak dan langkah = kiprah (move and change)
  3. Kemantapan perilaku (sikap, tindakan dan wawasan)
  4. Terobosan baru yang terukur dan terstruktur
  5. Lompatan teknologi dan inovasi baru, dan
  6. Rekayasa sosial ekonomi dan rekayasa teknologi yang terterapkan.

Mudah-mudahan saja.

(Murni dikutip dari buku Membangunan Jawa Barat, Entang Sastraatmadja, hal. 13-15).


Beri tanggapan

Your response:

Kategori